TheMandalikaGP

Ex Pembalap WorldSBK Kenang Masa Balapan Di Tahun 90’an

THEMANDALIKAGP –  Perhelatan MotoGP ditahun 90’an membawa kenangan tersendiri bagi pembalap yang saat itu masih aktif bertanding. Seperti mantan pembalap WorldSBK Neil Hodgson yang saat itu masih berusia belasan tahun. Diusia yang belia Hodgson merasakan perbedaan yang cukup mencolok antara kondisi sirkuit ditahun 90an dengan tahun 2000’an saat ini. Hudgson memulai debut pada tahun 1993 dimulai dari Australia lalu ke sirkuit Shah Alam di Malaysia ini lah sirkuit yang paling berkesan bagi Hudgson saa itu.

Jika dibandingkan, menurut Hudgson Sirkuit Shah Alam dan Sirkuit Termas de Rio Hondo adalah sirkuit yang serupa, sama-sama unik karena keduanya adalah sirkuit lama dengan tikungan yang tajam. Hal unik terjadi pada saat Hudgson dan ayahnya berada di sirkuit Shah Alam, yakni garasi yang terbuat dari metal bahkan tidak ada pendingin ruangan saat itu.

“Termas is a unique place and racing wasn’t like that even in the 90s, I started racing 125s back in ’93, the only place that felt a bit like that was when we went to Malaysia. Because it’s Shah Alam circuit, which is the old circuit we used to race at and it was really rough around the edges.” 

“Termas adalah tempat yang unik dan balapan disana tidak seperti balapan pada tahun 90an, saya memulai racing di kelas 125 di tahun 93, itu adalah satu-satunya tempat yang sama seperti Malaysia. Karena Sirkuit Alam Shah adalah sirkuit tertua yang pernah kami kunjungi dan sama-sama memiliki tikungan tajam” sebut Hodgson dilansir dari motogp.com

Kemudian Hudgson juga mendapati fotonya yang berada di depan tulisan “Dream BIG” baginya dulu berada di kejuaraan adalah mimpi karena ia harus keluar dari sekolah, tidak ada kualifikasi selama 3 tahun tapi ia juga memenangkan kejuaraan British hingga ia dapat mengikuti Grand Prix.

“It was like… it’s funny, I have a picture on the wall that says ‘dream BIG’, and weirdly looking at it I just think yeah, it was a dream. A dream. Because, I was a builder, so I left school, no qualifications, and I was a builder. I did that for three years. In the last year, I won the British championship, so I had to stop being a builder – thank God. And so, we went Grand Prix racing but I couldn’t believe it.”

“Lucu sekali, saya punya foto yang berada di tembok yanf bertuliskan ‘dream BIG’ dan saya aneh melihat foto itu seperti ya itu adalah mimipi, karena saya membangun karir jadi saya meninggalkan sekolah, tanpa kualifikasi dan saya melakukan itu selama tiga tahun. Di tahun terakhir saya memenangkan kejuaraan dan saya berhenti jadi “a builder” terimakasih Tuhan dan jadi kami bisa pergi ke Grand Prix tapi saya masih tidak percaya” ucapnya.

Selengkapnya bisa kamu dengarkan di podcast pada link berikut ya What was life like for a teenager in the 90s paddock?

Post a Comment